
AP, CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 23:54 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga orang tewas ditembak diduga saat melakukan Pesta Halloween. Selain itu, sembilan lainnya alami luka-luka.from CNN Indonesia https://ift.tt/322IDCG
via IFTTT

AP, CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 23:54 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga orang tewas ditembak diduga saat melakukan Pesta Halloween. Selain itu, sembilan lainnya alami luka-luka.
"Gerakan iklim tidak membutuhkan penghargaan apapun. Apa yang kita butuhkan adalah para politikus dan orang-orang yang berkuasa untuk mulai mendengarkan ilmu pengetahuan terbaik yang ada saat ini," kata Thunberg melalui sebuah unggahan di Instagram, Rabu (30/10).
Setelah pengumuman tersebut, seorang perwakilan Thunberg menuturkan dalam sebuah upacara di Stockholm bahwa ia tidak akan menerima penghargaan tersebut maupun hadiah sebesar US$70,9 ribu atau setara Rp994,5 juta.
Meski menolak, Thunberg tetap menghargai Dewan Nordik atas kehormatan besar yang telah diberikan. Namun, dia juga mengkritik negara-negara Skandinavia karena tidak memaksimalkan reputasi mereka yang baik dalam isu-isu iklim.
"Tidak ada kekurangan dalam kesombongan maupun kata-kata yang indah terkait hal ini. Tetapi ketika menyangkut emisi aktual dan jejak ekologi per kapita kita, itu adalah cerita yang berbeda," kata Thunberg.
Perwakilan Kejaksaan Distrik Suffolk County, Rachael Rollins, mengungkapkan kepada CNN bahwa Inyoung You (21) dituduh melakukan kekerasan fisik, lisan dan psikologis terhadap kekasihnya, Alexander Urtula (22). Mereka menjalin hubungan asmara selama 18 bulan.
Penyidik juga mendapatkan bahwa tersangka yang juga merupakan mahasiswi Universitas Boston diduga telah mengirimkan lebih dari 47 ribu pesan selama dua bulan jelang kematiannya.
Ribuan pesan itu berisi suruhan melakukan bunuh diri atau menyuruh Urtula untuk mati agar dia, keluarganya dan dunia akan lebih baik.
Jaksa mendeskripsikan terdapat beberapa pola kekerasan dan manipulasi selama You dan Urtula berhubungan. Pelaku diduga membuat tuntutan dan ancaman serta mengendalikan penuh korban secara mental dan emosional.
Pelaku diduga secara sadar mengetahui depresi yang dialami korban.
Rollins menuturkan pelaku kini berada di Korea Selatan dan pihak kejaksaan sangat optimis You kembali AS secara sukarela. Namun, dia mengancam akan menggunakan prosedur hukum jika You tidak mengindahkan surat panggilan pemeriksaan.
"Jika dia tidak [kembali ke AS], kami akan menggunakan cara yang kami miliki agar ia bisa kembali," katanya.
Rollins kemudian menyampaikan kejaksaan sedang bekerja sama dengan pengacara tersangka untuk melakukan koordinasi terkait dakwaan tersebut. Dewan juri telah mengembalikan dakwaan itu pada 18 Oktober.
Terkait hukuman yang akan diberlakukan, Rollins menyatakan sebuah rancangan undang-undang (RUU) terkait bunuh diri telah diajukan kepada komite legislatif. RUU tersebut dapat menghukum pemicu bunuh diri hingga lima tahun penjara.
Kasus bunuh diri Urtula menuai perbandingan dengan kasus Michelle Carter. Carter dihukum atas pembunuhan tidak disengaja setelah kekasihnya, Conrad Roy III, bunuh diri.
Dalam sidang putusan, hakim memutuskan bahwa pesan teks berisi yang dikirimkan Carter yang memicu tindakan bunuh diri Roy pada 2014 lalu.
Rollins mengatakan bahwa kedua kasus memiliki beberapa kesamaan, meski menyebutkan bahwa kasus Carter terjadi dengan kontak fisik yang minim dan pesan yang dikirimkan memiliki bahasa yang mengerikan menjelang kematian korban.
"Jujur saja, saya dapat mengatakan sebaliknya. Kami memiliki serangkaian bukti lengkap terhadap serangan yang dilakukan terhadap kehendak, hati nurani dan jiwa korban yang dilakukan oleh seorang individu dengan 47 ribu pesan teks selama dua bulan jelang [kematian korban]," ujarnya.
Juru bicara universitas, Jack Dunn, menyebutkan You dijadwalkan akan wisuda pada Mei 2020 mendatang, tetapi ia sudah mengundurkan diri dari kegiatan perkuliahan pada Agustus.
"Alexander [Urtula] merupakan mahasiswa berbakat di Universitas Boston, di mana ia terlibat dalam berbagai kegiatan termasuk Perkumpulan Mahasiswa Filipina Universitas Boston. Kami terus menyampaikan belasungkawa dan doa kepada keluarga Alex," kata Dunn.
(CNN Indonesia/Fajrian) |