
Dengan muatan bahan bakar nuklir, reaktor bernama Akademik Lomonosov itu akan bertolak dari Pelabuhan Arctic di Murmansk dan memulai perjalanan sejauh 5.000 kilometer menuju timur laut Siberia.
Kapal seberat 21 ribu ton itu memiliki dua reaktor nuklir dengan kapasitas masing-masing 35 megawatts. Akademik Lomonosov akan membawa 69 kru yang bakal mengawal kapal tersebut mengarungi laut dengan kecepatan 3,5 sampai 4,5 knot.
Ketika tiba di Pevek, Akademik Lomonosov akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan daya setelah satu PLTN dan pembangkit listrik batu bara di daerah itu tutup.
Badan nuklir Rusia, Rosatom, menyatakan bahwa Akademik Lomonosov merupakan alternatif sederhana ketimbang harus membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di darat.
"Setiap pembangkit listrik tenaga nuklir pasti menghasilkan limbah radioaktif dan bisa menyebabkan kecelakaan. Akademik Lomonosov sendiri juga rentan terhadap badai," ujar kepala sektor energi dari lembaga swadaya masyarakat Greenpeace Rusia, Rashid Alimov, kepada AFP.
Lebih jauh, menurut Alimov, sejumlah wilayah di Rusia sebenarnya masih sangat berpotensi untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin. Metode ini memakan biaya yang lebih sedikit ketimbang harus menggunakan nuklir.
"PLTN terapung merupakan cara memproduksi listrik yang terlalu berisiko dan terlalu mahal," tutur Alimov. (has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2MzRpoG
via IFTTT
No comments:
Post a Comment