
"Agresi ini adalah bentuk ancaman terhadap kestabilan kawasan dan untuk membuat situasi semakin panas," kata Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, seperti dilansir AFP, Senin (26/8).
"Dua drone milik Israel menerobos wilayah udara Libanon di sebelah selatan kawasan pinggiran Beirut. Satu jatuh dan lainnya meledak di udara, dan serpihannya merusak sejumlah bangunan," kata perwakilan Angkatan Darat Libanon.
Menurut Afif, salah satu drone yang jatuh merusak bangunan pusat informasi Hizbullah.
"Drone itu membawa roket dan meledak sehingga membuat bangunan itu rusak parah. Serpihan kaca juga membuat sejumlah orang terluka," kata Afif.
Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, memperingatkan akan membalas serangan Israel. Presiden Libanon, Michel Aoun, yang merupakan sekutu Hizbullah menyatakan kejadian itu diduga hendak merusak keamanan dan perdamaian di Libanon dan Timur Tengah.
Israel Membantah
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Israel, Jonathan Conricus, membantah drone yang jatuh di Beirut adalah milik mereka. Dia justru mengatakan pesawat nirawak itu adalah milik Iran yang diterbangkan dari Damaskus, Suriah untuk menyerang Israel.
"Kami menyerang markas pasukan Quds (pasukan elit Korps Garda Revolusi Iran) dan milisi Syiah," kata Conricus.
Menurut Conricus, mereka melakukan itu karena mendapat informasi Iran akan menyerang Israel dari Suriah. Menurut dia, Iran sudah tiga kali meluncurkan roket dan rudal ke arah Israel dari Suriah pada 2018.
"Kami sudah mengintai pergerakan pasukan Quds selama beberapa pekan," ujar Conricus.
Sejak Perang Suriah meletus pada 2011, Israel sudah berulang kali menyerang. Mereka beralasan sasarannya adalah markas pasukan Iran di Suriah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memuji aksi militer itu.
"Iran tidak punya kekebalan. Pasukan kami menggelar operasi di seluruh sisi melawan serangan Iran," kata Netanyahu. (ayp/ayp)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2U25lbR
via IFTTT
No comments:
Post a Comment