
Sekretaris Jenderal KEP, Adriano da Costa Freitas, mengatakan kepada CNNIndonesia.com bahwa kepolisian menahan puluhan mahasiswa itu setelah mereka menggelar konferensi pers pernyataan dukungan di Universitas Nasional Timor Lorosae (UNTL).
"Namun, belum sampai KBRI, polisi menahan 47 orang dari sekitar 100 orang yang ikut," ujar Adriano pada Jumat (23/8).
Adrian mengatakan bahwa penangkapan itu terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Mereka kemudian diinterogasi dan dibebaskan pukul 16.00.
"Di sini memang sedang melakukan sterilisasi. Semua aktivitas dilarang, tapi kami tetap ingin turun ke jalan. Aksi yang kami lakukan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap bangsa Papua," tutur Adrian.
Dalam video yang diterima CNNIndonesia.com, para mahasiswa terlihat menggelar konferensi pers di atas meja yang beralaskan bendera bintang kejora.
Di awal pernyataannya, perwakilan KEP menyatakan bahwa mereka mengutuk insiden rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang pekan lalu yang memicu aksi demonstrasi di Manokwari dan Sorong.
"Kami mengutuk tindakan represif dan rasis aparat TNI-Polri dan ormas sipil reaksioner terhadap mahasiswa-mahasiswi Papua dengan sebutan kata monyet," kata seorang perwakilan KEP.
Mereka juga menuntut agar pemerintah Indonesia menarik militer dari tanah Papua.
Selain itu, para anggota KEP juga mendesak agar Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa agar segera berkunjung ke Papua.
"Hentikan rasisme terhadap bangsa Papua. Segera bebaskan bangsa monyet dari tanah mereka," katanya. (has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2zg0uKt
via IFTTT
No comments:
Post a Comment