
"Kami menghargai (tawaran bantuan) itu, tetapi uang-uang tersebut sepertinya jauh lebih relevan jika digunakan untuk reboisasi atau penanaman pohon di Eropa," ucap Kepala Staf Kepresidenan Brasil, Onyx Lorenzoni, kepada portal berita G1, Selasa (27/8).
Dikutip AFP, pernyataan itu diutarakan Lorenzoni menyusul pernyataan niat negara G7 untuk memberikan bantuan finansial US$22 juta atau Rp313,7 miliar untuk memerangi kebakaran di Amazon, hutan hujan tropis terbesar di dunia.
Macron menyebut kebakaran Hutan Amazon sebagai darurat bencana global. Dia mendorong para pemimpin negara G7 untuk memberikan bantuan nyata demi kelestarian paru-paru dunia tersebut.
Selain menggelontorkan dana, pemimpin negara G7 juga sepakat menyusun inisiatif terkait program perlindungan Hutan Amazon yang akan diluncurkan dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September mendatang.
Melalui kicauannya di Twitter, Bolsonaro menganggap bantuan-bantuan itu membuat Brasil diperlakukan seperti koloni atau negara yang dijajah.
Pemerintahan Bolsonaro terus menjadi perhatian setelah kebakaran hutan di Brasil mencapai rekor terparah tahun ini menurut INPE, badan antariksa negara itu sendiri.
INPE mendeteksi sekitar 73.000 titik api muncul di lahan dan hutan Brasil sepanjang tahun ini. Sebagian besar titik-titik itu terletak di lembah Amazon.
Data pemerintah Brasil menunjukkan titik api di Amazon meningkat 83 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Asap kabut kebakaran hutan di Amazon bahkan bisa terlihat dari citra satelit luar angkasa. (rds/has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2MEDNIK
via IFTTT
No comments:
Post a Comment