
Marape mengatakan bahwa permintaan penentuan tenggat ini akan ia sampaikan langsung ketika bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, di Canberra pekan depan.
Baru dilantik pada dua bulan lalu, Marape mengaku sudah pernah membahas isu kamp di Pulau Manus ini dengan Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton.
"Saya meminta dia untuk segera melakukan proses pencarian jalan keluar untuk para pencari suaka ini," ucap Marape.
Mereka lantas mengirimkan para imigran dan pencari suaka itu ke kamp-kamp penampungan di Manus dan Pulau Nauru yang berada di Pasifik.
Ribuan pengungsi berdesakan di dua kamp yang situasinya sangat tidak kondusif itu. Kelompok-kelompok pemerhati HAM di Perserikatan Bangsa-Bangsa pun mengecam Australia atas perlakuan buruk terhadap pengungsi ini.
Australia memang berhasil menempatkan sebagian besar pengungsi dan pencari suaka ke negara ketiga. Namun, masih ada sekitar 450 orang hidup luntang-lantung di Manus, di mana tingkat bunuh diri kian tinggi.
Sementara itu, 350 pengungsi dan pencari suaka lainnya juga masih menunggu kepastian hidup di Pulau Nauru.
Pemerintahan Morrison sendiri selalu menolak menerima pencari suaka dari kedua kamp tersebut. Mereka berdalih, jika Australia menerima pencari suaka tersebut, akan semakin banyak orang yang berpikiran untuk mengungsi ke negaranya. (has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2LrZECr
via IFTTT
No comments:
Post a Comment