
Mantan PM China periode 1987 hingga 1998 dianggap bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa demonstrasi pro reformasi di Lapangan Tiananmen pada 4 Juni 1989 silam.
Dilansir dari berbagai sumber, Rabu (24/7), saat itu Li sempat mengumumkan darurat militer pada 20 Mei 1989 setelah pecahnya aksi protes besar-besaran oleh mahasiswa dan para pekerja yang berkemah selama berminggu-minggu di Lapangan Tiananmen demi menuntut adanya perubahan.
Selang dua pekan kemudian, tepatnya pada 3-4 Juni 1989, tentara bentrok dengan para demonstran hingga menewaskan ratusan warga sipil tak bersenjata. Jumlah korban tewas bahkan diperkirakan lebih dari seribu orang.
"Tanpa langkah-langkah tersebut China mungkin akan menghadapi situasi yang lebih buruk dibandingkan yang terjadi di Uni Soviet atau Eropa Timur," ujar Li di sela-sela lawatan kenegaraan ke Austria pada 1994.
Meski begitu, Li berhasil mempertahankan posisinya selama lebih dari satu dekade.
Li juga pernah ditunjuk menjadi ketua tim persiapan pembangunan Bendungan Tiga Ngarai di sungai Yangtze, suatu prestasi besar dalam bidang teknik yang menjadi bagian dari warisan kepemimpinannya.
Bendungan dengan kedalaman mencapai 185 meter tersebut menjadi proyek raksasa yang masyhur dan menelan banyak biaya yang pernah dibuat China sekaligus kontroversial. Pembangunan proyek tersebut turut menenggelamkan sejumlah perkampungan, menggusur jutaan penduduk dan merusak ekosistem.
from CNN Indonesia https://ift.tt/32YpbJ8
via IFTTT
No comments:
Post a Comment