
Pria 54 tahun itu merupakan mantan menteri luar negeri era Theresa May yang memutuskan mundur pada 2018 lalu karena berselisih paham terkait Brexit dengan sang pemimpin.
Johnson merupakan salah satu politikus tersohor di Inggris. Pria 54 tahun itu dikenal sebagai politikus tegas sekaligus pernyataannya yang kerap mengundang kontroversi.
Johnson juga dikenal memiliki rekor buruk sebagai menteri yang memiliki banyak "musuh politik" di parlemen.
Sebelum terjun ke dunia politik dan pemerintahan, pemilik nama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson itu memulai karir sebagai seorang konsultan manajemen. Karir konsultannya tidak berumur panjang hingga akhirnya Johnson memutuskan banting setir ke dunia jurnalistik.
Johnson pernah bekerja sebagai wartawan surat kabar The Times pada 1987, tetapi dipecat karena terbukti memalsukan pernyataan narasumber.
Pada 1989 Johnson kembali bekerja sebagai koresponden The Daily Telegraph khusus meliput Komunitas Eropa. Karirnya melonjak pada 1994 ketika ia menjabat sebagai asisten editor di perusahaan yang sama.
Pada 2001, Johnson berhasil menjadi anggota parlemen di wilayah Henley-on-Thames dan menjabat selama tujuh tahun hingga 2008.
Karir politik Johnson perlahan naik saat terpilih menjadi walikota London pada 2008 hingga 2016. Selama masa jabatannya, ia berfokus pada menekan tingkat kejahatan dan membenahi transportasi.
Nama Johnson kian tersohor setelah dia terpilih menjadi Menteri Luar Negeri Inggris di bawah pimpinan May pada 2016 hingga 2018.
Selama ini, Johnson juga dikenal sebagai politikus pendukung Brexit. Dia sangat mendukung Inggris untuk keluar dari Uni Eropa pada referendum tiga tahun lalu.
Selama kampanye, Johnson juga bertekad untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apa pun.
Pendekatannya itu lantas menuai protes keras dari para loyalis May yang mendukung Inggris untuk menjalin hubungan ekonomi dengan Uni Eropa pasca-Brexit. (rds/ayp)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2YaQ7l6
via IFTTT
No comments:
Post a Comment