
Penasihat Gedung Putih, Kellyanne Conway, mengatakan bahwa Trump tetap mempertimbangkan bertemu dengan Rouhani di sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York akhir bulan ini jika kondisinya tepat.
"[Trump] akan mempertimbangkannya. [Namun], semua situasinya harus tepat sehingga presiden dapat membuat kesepakatan atau setidaknya bertemu," ujar Conway kepada Fox News seperti dikutip AFP, Minggu (15/9).
Tak lama setelah insiden itu, kelompok pemberontak Yaman yang didukung Iran, Houthi, langsung mengklaim bertanggung jawab atas serangan pesawat nirawak tersebut.
Namun, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan bahwa tak ada bukti "serangan terhadap pemasok energi dunia itu" diluncurkan dari Yaman.
Relasi Iran dan AS sendiri memanas sejak Juli lalu, ketika Rouhani mengumumkan bahwa mereka melakukan pengayaan uranium melebihi batas yang ditentukan dalam perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.
Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.
[Gambas:Video CNN]
Iran bertekad bakal terus melakukan pengayaan uranium jika negara-negara lain yang menandatangani perjanjian itu tak berbuat apa pun untuk melawan AS.
Sejak saat itu, tensi antara Iran dan AS terus meningkat dengan isu pengerahan militer hingga uji coba rudal Teheran.
Namun, sejumlah pengamat mulai melihat harapan perbaikan hubungan Iran dan AS setelah Trump memecat penasihat keamanan nasional yang kerap menerapkan pendekatan sangat keras, John Bolton. (has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2I7E02Y
via IFTTT
No comments:
Post a Comment