
Dalam pertemuan di Ouval Office itu, Jewher Ilham selaku perwakilan dari komunitas Muslim Uighur, menceritakan kepada Trump sedikit kisah pilunya saat hidup di Xinjiang, China.
Selain Ilham, Gedung Putih juga mengundang tiga orang lainnya yang berasal dari kelompok korban diskriminasi China.
Mereka adalah Yuhua Zhang selaku praktisi Falun Gong; penganut Buddha Tibet, Nyima Lhamo; dan seorang Kristen, Manping Ouyang.
Namun, AS tak kunjung mengambil keputusan terkait sanksi itu karena khawatir akan aksi balas dendam dari China. Relasi kedua negara sendiri sudah memanas akibat perang dagang.
Tak hanya yang termarjinalkan di China, sejumlah kelompok lain juga menjadi tamu undangan dalam pertemuan dengan Trump kali ini, termasuk Muslim Rohingya dari Myanmar.
Sehari sebelum pertemuan ini, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengumumkan sanksi tambahan atas Panglima Militer Myanmar, Min Aung Hlaing, yang diduga bertanggung jawab atas pembantaian Rohingya.
Di luar China dan Myanmar, korban persekusi lainnya dari Vietnam, Korea Utara, Iran, Turki, Kuba, Eritrea, Nigeria, Sudan, hingga Afghanistan turut meramaikan pertemuan tersebut.
Duta Besar AS untuk Urusan Kebebasan Beragama, Sam Brownback, mengatakan bahwa pemerintahannya akan mengumumkan "langkah lanjutan" untuk menjamin kebebasan beragama dalam rapat di Kementerian Luar Negeri pada hari ini. (has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2O0kHOH
via IFTTT
No comments:
Post a Comment