Diterapkan pertama kali di Mexico City pada 1989, regulasi ganjil genap kini sudah diadopsi berbagai ibu kota negara, seperti Beijing, Paris, Bogota, dan New Delhi.
Beijing, China
Beijing termasuk salah satu kota yang berhasil mengurangi polusi udara dengan penerapan sistem ganjil genap.
Berbeda dengan Indonesia, China hanya menerapkan sistem ini saat tingkat polusi udara mencapai taraf buruk sampai tiga hari berturut-turut.
Ilustrasi kondisi jalan di Beijing. (Reuters/Stringer) |
Selama sistem ini berlaku, jam operasional sejumlah modal transportasi publik diperpanjang untuk mengakomodasi pergerakan warga.
Berkat regulasi ini, Beijing keluar dari daftar kota berpolusi pada Januari 2017. South China Morning Post memberitakan bahwa saat itu, kualitas udara Beijing mencapai titik 482.
Paris, Prancis
Layaknya Beijing, Paris juga hanya menerapkan aturan ganjil genap selama kualitas udara memburuk.
Namun, jenis kendaraan yang dianggap bersih, seperti bus, taksi, dan mobil kepolisian, masih diizinkan melintas di ruas-ruas jalan Paris.
Ilustrasi sudut kota Paris. (Reuters/Benoit Tessier) |
Berkat penerapan regulasi ini pada Maret 2014 lalu, polusi di Paris berkurang 2 persen pada siang hari. Di jalan-jalan yang rawan macet, tingkat polusi bahkan menurun hingga 20 persen.
New Delhi, India
Berkaca pada Beijing dan Paris, New Delhi juga menerapkan program ganjil genap saat polusi udara mulai melingkupi kota.
Saat pertama kali memberlakukan aturan ini selama 15 hari pada 2016 lalu, India tak terlalu puas dengan penurunan polusi udara yang dianggap sangat rendah.
Menteri Kepala India, Arvind Kejriwal, mengakui bahwa penerapan aturan ini memang tidak berpengaruh banyak pada polusi, tapi mengurangi kemacetan.
Kejriwal menjabarkan bahwa pengguna transportasi publik di New Delhi pun meningkat 2,5-3 persen pada saat pertama kali aturan itu diimplementasikan.
Dalam jajak pendapat beberapa bulan setelahnya, 64 persen warga ingin aturan ini kembali diterapkan. NDTV melaporkan bahwa India akhirnya memberlakukan kembali sistem ganjil genap pada April 2016.
Kali ini, 99,6 persen warga mematuhi aturan tersebut. Namun, kemacetan tetap merajalela karena saat itu, banyak pembangunan, termasuk stasiun kereta bawah tanah.
Mexico City, Meksiko
Sebagai kota yang pertama kali menerapkan aturan ganjil genap, Mexico City langsung dilirik banyak pihak karena berhasil mengurangi polusi hingga 11 persen.
Aturan yang dikenal dengan sebutan "Hoy no Circula" itu juga berhasil mengurangi sirkulasi kendaraan hingga 20 persen dari Senin hingga Jumat.
Di tahun-tahun awal pemberlakuan aturan ini, Mexico City sangat bersih. Keadaan mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir karena para warga mulai membeli dua mobil untuk mengakali regulasi ganjil genap.
Bogota, Kolumbia
Mencampur formula aturan ganjil genap dari berbagai negara, Kolumbia menerapkan aturan serupa di Bogota.
Sistem ini hanya berlaku selama jam sibuk, dua hari dalam sepekan. Untuk menghindari kecurangan warga seperti di Mexico City, Bogota mengganti kombinasi hari dan nomor pelat kendaraan setiap hari.
Agar jera, para pelanggar regulasi diwajibkan membayar denda hingga 15 persen dari upah minimum regional.
Meski demikian, Bogota dianggap tak berhasil mencapai tujuan penerapan ganjil genap karena para warga justru berkendara di jam-jam yang tak masuk dalam aturan. (has)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2ZH8fou
via IFTTT
Ilustrasi kondisi jalan di Beijing. (Reuters/Stringer)
Ilustrasi sudut kota Paris. (Reuters/Benoit Tessier)
No comments:
Post a Comment