
"Meski telah kehilangan wilayah kekhalifahan, ISIS melakukan konsolidasi anggota di Irak dan juga mulai bangkit kembali di Suriah," demikian isi laporan Itjen Kemenhan AS, yang dirilis pada kemarin, seperti dilansir CNN, Rabu (7/8).
Di dalam laporan itu, Pentagon menyatakan saat ini diperkirakan ada sekitar 14 ribu sampai 18 ribu anggota ISIS yang tersisa. Sebanyak 3000 di antaranya adalah warga asing.
Menurut Pentagon, meski dianggap kalah, ISIS tetap bergerak di bawah tanah dan melalui media sosial untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota.
ISIS, kata Pentagon, mencari perlindungan di kawasan yang mayoritas penduduknya adalah kalangan Muslim Sunni. Di sana mereka bakal membina anggota dan menyusun kekuatan.
Pentagon menyatakan salah satu alasan tanda-tanda ISIS bakal bangkit kembali adalah keputusan Presiden Donald Trump menarik pasukan di Suriah. Mereka mengklaim hal itu berpengaruh terhadap operasi yang dilakukan oleh pasukan Kurdi yang menjadi sekutu AS untuk melawan ISIS.
Menurut mereka, pasukan AS kesulitan memandu pasukan Kurdi di lapangan, dan dalam memantau wilayah-wilayah yang rentan menjadi basis perekrutan atau kebangkitan sel tidur ISIS.
Di sisi lain, AS juga khawatir karena pasukan Turki mulai gencar menyerang milisi Kurdi. Sebab Turki menganggap etnis Kurdi adalah pemberontak dan membahayakan kawasan perbatasan mereka dengan Irak dan Suriah.
AS juga khawatir pasukan mereka jadi korban salah sasaran pertikaian antara Turki dan Kurdi, dan membuat pengawasan terhadap anggota ISIS yang ditahan di kamp Al-Hol menjadi terabaikan.
Trump sejak tahun lalu berjanji akan menarik pasukan dari Suriah. Dia menyatakan ISIS sudah kalah 100 persen, maka dari itu keberadaan pasukan AS di Suriah sudah tidak diperlukan. (ayp/ayp)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2MJjp8s
via IFTTT
No comments:
Post a Comment