
Menurut keterangan Dinas Pemadam Kebakaran Christchurch, insiden itu terjadi diduga karena kebocoran gas. Mereka mengerahkan empat truk pemadam dan tim lengkap dengan penyelidik ke lokasi kejadian.
Seperti dilansir Reuters, ledakan itu terjadi di daerah pemukiman Northwood. Menurut saksi, ledakan itu membuat sejumlah bangunan di sekitarnya berguncang.
Bahkan rumah-rumah terdekat juga mengalami kerusakan.
Sejumlah penduduk menduga ledakan itu disebabkan oleh bom. Sebab, pada Maret lalu kota ini dikejutkan dengan aksi teror penembakan di dua masjid.
Akibat perbuatan itu 51 orang meninggal, termasuk warga Indonesia. Sedangkan sejumlah orang lainnya mengalami luka-luka.
Pelaku teror, Brenton Harrison Tarrant, kini sedang menjalani persidangan atas perbuatannya. Dia mengaku tidak bersalah atas 92 dakwaan terhadap dirinya terkait penyerangan di Christchurch, termasuk soal dakwaan terorisme.
Usai insiden teror penembakan, pemerintah Selandia Baru yang dipimpin Perdana Menteri Jacinda Ardern mengubah undang-undang kepemilikan senjata pada April lalu.
Pemerintah setempat juga telah mengalokasikan sekitar US$139 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun guna menarik senjata api semi otomatis dengan cara membeli dari para penduduk.
Hingga pekan lalu, polisi berhasil menarik 224 senjata api milik warga. Sekitar 22 kegiatan sejenis juga akan dilakukan pekan ini.
Menurut laporan Small Arms Survey, Selandia Baru berada di urutan 17 dunia dalam hal kepemilikan senjata oleh penduduk sipil. Dari total lima juta penduduk, sekitar 1,5 juta warga Selandia Baru menyimpan senjata api di rumahnya. (ayp)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2xXWiP0
via IFTTT
No comments:
Post a Comment